
Itik pedaging merupakan salah satu sumber protein hewani yang pertumbuhannya sangat pesat di sektor peternakan, namun pemeliharaannya sering kali menghadapi tantangan terkait efisiensi pakan dan kerentanan terhadap gangguan pencernaan. Penggunaan antibiotik sebagai pemicu pertumbuhan (growth promoters) kini mulai dibatasi karena risiko residu dan resistensi, sehingga pencarian alternatif bahan alami menjadi sangat krusial. Bawang putih (Allium sativum) telah lama dikenal memiliki senyawa bioaktif seperti alisin yang bersifat antibakteri, antioksidan, dan imunomodulator, yang berpotensi besar untuk memperbaiki kesehatan saluran pencernaan serta mengoptimalkan performa produksi ternak tanpa efek samping berbahaya.Pemanfaatan serbuk bawang putih dalam ransum itik menawarkan solusi praktis untuk memanipulasi ekosistem mikroba di dalam sekum (usus buntu). Senyawa fitokimia dalam bawang putih bekerja dengan cara menekan pertumbuhan bakteri patogen sekaligus merangsang perkembangan bakteri menguntungkan, sehingga tercipta lingkungan usus yang lebih sehat untuk penyerapan nutrisi. Selain itu, aroma dan karakteristik unik dari bawang putih dipercaya dapat meningkatkan palatabilitas pakan, yang pada akhirnya mendorong konsumsi pakan dan mempercepat laju pertumbuhan itik pedaging pada fase pertumbuhan kritis.
Penelitian ini mengevaluasi secara mendalam pengaruh berbagai level suplementasi serbuk bawang putih terhadap performa pertumbuhan, profil serum darah, dan komposisi mikrobiota sekum pada itik pedaging. Hasil studi menunjukkan bahwa pemberian serbuk bawang putih pada dosis yang tepat secara signifikan mampu meningkatkan bobot badan akhir dan memperbaiki rasio konversi pakan (FCR). Temuan ini mengonfirmasi bahwa bawang putih bukan sekadar bumbu dapur, melainkan agen pemacu pertumbuhan alami yang efektif dalam meningkatkan produktivitas itik pedaging secara berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, analisis laboratorium mengungkapkan bahwa penggunaan serbuk bawang putih memberikan dampak positif terhadap profil metabolik darah, termasuk penurunan kadar kolesterol dan trigliserida. Hal ini mengindikasikan bahwa bawang putih berperan dalam metabolisme lipid yang lebih baik, sehingga berpotensi menghasilkan daging itik yang lebih sehat bagi konsumen. Pada tingkat mikroskopis, suplementasi ini juga terbukti meningkatkan keragaman mikrobiota usus, yang merupakan indikator kunci dari sistem pertahanan tubuh ternak yang kuat terhadap serangan penyakit infeksius.
Inovasi dalam penggunaan bahan lokal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam hal kemandirian pangan dan produksi ternak yang ramah lingkungan. Dengan mengintegrasikan herbal seperti bawang putih ke dalam formulasi pakan, peternak dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis sekaligus meningkatkan nilai tambah produk itik pedaging. Hasil penelitian ini memberikan referensi ilmiah yang kuat bagi industri pakan untuk memanfaatkan potensi kekayaan alam lokal Indonesia guna mendukung terciptanya sistem peternakan itik yang lebih efisien, sehat, dan menguntungkan.
Penulis: Wara Pratitis Sabar Suprayogi, Adi Ratriyanto, Sigit Prastowo, Adi Magna Patriadi Nuhriawangsa, Ismoyowati, dan Agung Irawan.
Link Jurnal: https://doi.org/10.1080/1828051X.2025.2556268




